Posted by: noceng007 | 18 April 2010

Sosok wanita di mata laki-laki

Di dunia ini ada wanita ada laki-laki, ada putih ada hitam, ada baik ada buruk, dan ada kecil ada besar. Allah SWT menciptakan segala sesuatu berpasangan. Benda matipun ada pasangannya, apalagi kita manusia, makhluk Allah yang paling sempurna. Ketika sosok laki-laki, di wakili oleh nabi Adam, lahir pertama kali di surga; Allah menciptakan wanita sebagai pendamping nabi Adam agar tidak kesepian. Tapi sayang, karena rayuan setan melalui Siti Hawa, wanita pertama di dunia, keduanya keluar dari surga dan akhirnya di turunkan ke bumi. Mereka hidup bersama sehingga melahirkan keturunan-keturunan, termasuk kita, yang sampai kini hadir di bumi ini.
Jika kita lihat peran wanita saat kini, sangarlah berbeda jika dibandingkan dengan wanita masa lampau. Telah banyak wanita yang memperoleh kesamaan derajat dan martabat dengan pria. Telah banyak pula wanita yang dapat mengantikan peran laki-laki dalam mencari nafkah. Sayang, beberapa wanita ada yang yang terlampau jauh menafsirkan perannya ketika berkeluarga. Sehingga, peran laki-laki sebagai pemimpin keluarga tak jarang tergantikan. Selain karena perubahan waktu, sosok wanita berubah seiring dengan ”tren-tren” yang ada di hadapan mereka. Sebagian tren-tren seperti: wanita karir hingga melupakan perannya sebagai ibu bagi anaknya, wanita perokok yang disebabkan oleh pergaulan, wanita super (kuat dan berotot) dan seksi (bangga memperlihatkan auratnya) sangat sering terlihat akhir-akhir ini. Inilah fakta yang membuat saya ingin berbagi pendapat dengan calon-calon ibu generasi penerus bangsa. Tapi tak tertutup juga bagi para laki-laki yang ingin nimbrung memberikan pendapatnya.
Menurut saya, sosok wanita sangatlah berperan atas kesuksesan/ ketidak berhasilan bangsa untuk bangkit/ makin jatuh dari keterpurukan. Jika wanita sejak dini sudah di didik kurang baik, maka bangsa ini akan terlahir dengan pincang. Dari wanitalah, generasi penerus lahir. Melalui wanita di bantu dengan laki-laki, karakter anak akan terbentuk. Bahkan Nabi Muhammad SAW memprioritaskan wanita dengan menyebut namanya tiga kali; Ibu, Ibu, Ibu baru Ayah; sebagai sosok yang harus di hormati sebelum Ayah. Ketika presiden pertama RI, Ir. Soekarno berpesan kurang lebih:”Beri aku beberapa pemuda, dunia akan aku bentuk”; menandakan bahwa lewat pemuda sebagai generasi kedua, dia bisa merubah dunia. Sekarang tinggal mau ke arah mana dunia ini mau di bentuk. Mau ke arah kehancuran atau ke arah kebangkitan. Sehubungan dengan kuatnya peran wanita di bandingkan dengan laki-laki, kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kepada mereka. Saya sebagai laki-laki juga mempunyai tanggungjawab yang tak kalah pentingnya, yaitu membimbing calon-calon Ibu ke arah yang lebih baik. Pasangan yang baik adalah pasangan yang dapat menutupi kekurangan pasangannya, bukan malah membuka aib pasangannya.
Jadi, saya bisa ambil kesimpulan bahwa sosok wanita di mata laki-laki adalah sosok yang kuat, karena mengandung janin selama 9 bulan; berpengaruh, karena melahirkan generasi penerus bangsa yang kuat atau lemah; mematikan, karena bisa mempengaruhi laki-laki dalam mengambil keputusan baik atau buruk; dan keibuan, karena setiap wanita terlahir sebagai ibu seperti layaknya laki-laki yang terlahir sebagai bapak. Selain itu, sosok wanita akan menjadi kuat, berpengaruh baik, mematikan ‘virus’ dan menciptakan ‘anti virus’, serta keibuan; jika di dukung oleh sosok laki-laki yang dapat menunjukkan mana yang hak atau bathil. Wanita dan laki-laki sama-sama membutuhkan. Tak ada wanita yang bisa hidup tanpa laki-laki, maupun sebaliknya. Wanita dan laki-laki layaknya koin yang tak terpisahkan.
Bagaimana menurut calon ibu-ibu sekalian maupun laki-laki, apakah setuju dengan pendapat saya? Berikan komentarnya ya. Saya tunggu loh. En jangan lupa berikan alasan.

Posted by: noceng007 | 16 April 2010

Memanusiakan Manusia

Manusia sudah keluar dari fitrahnya?Pertanyaan itu yang selalu teriang-iang dalam pikiran ini. Melihat peristiwa sehari-hari yang begitu kejam tertampil baik dalam layar kaca maupun panggung kehidupan, membuat hati ini miris. Miris menyaksikan perang saudara yang semakin hari tak terkendali. Miris melihat orang kuat makin kuat mencengkram dan orang lemah semakin tak kuasa menahan lapar. Dimanakah pemimpin-pemimpin kita yang diserahi tugas memimpin dunia ini? Apakah mereka buta, tuli, dan cacat tak bertuan? Atau, mereka acuh karena mereka sudah mendapatkan apa yang diinginkan? Hanya Allah yang tahu. Semoga saja Allah masih sabar melihat manusia yang sudah tidak menjadi manusia semestinya. Itulah mengapa, saya sebagai salah satu manusia sangat berharap agar bisa memanusiakan manusia. Lewat apa? Lewat pendidikan keluarga yang penuh dengan niat baik, perlakuan halus, dasar yang kuat, dan moral yang menasehati (bukan menggurui). Smg saja berhasil. Doakan ya teman.

Tags:

Posted by: noceng007 | 13 April 2010

Salam Hormat untuk Bunda Helvy

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Suatu kehormatan bagi saya, seorang calon penulis, bisa berbagi dengan siapa saja lewat sebuah tulisan yang akan dipersembahkan sebagai bentuk penghargaan bagi sosok Bunda, Penulis, Kartini, Panutan, Pejuang Pena, dan Istri yang sholihah yaitu Helvy Tiana Rosa. Jujur, saya sebenarnya tidak mengenal beliau sebelum saya ikut FLP. Paling-paling saya tahu tulisan beliau ketika ditunjuk sebagai orang yang memberikan kata pengantar di beberapa buku, seperti kumpulan cerpen “Tangan-Tangan Kecil Melukis Langit” dan buku motivasi membaca-menulis“Mengikat Makna Sehari-hari”. Tapi akhir-akhir ini, saya INGIN!!!! lebih mengenal beliau ketika tahu kalau anak yang bernama Abdurrahman Faiz adalah putra sulungnya dan ketika saya berniat mengikuti LOMBA MENULIS ESEI TINGKAT NASIONAL TENTANG HELVY TIANA ROSA dengan tema: “Helvy Tiana Rosa, Karya dan Dunianya, seperti sekarang ini. Abdurrahman Faiz, sebagai salah satu anak kebanggaan beliau, membukakan mata hati saya bahwa ternyata anak sekecil dia bisa memberi pelajaran lebih kepada orang yang lebih tua. Anak seusia dia pasti tidak jauh dari yang namanya bermain. Tapi, kenyataannya lebih daripada itu. Faiz dengan kepandaian mengolah kata baik dalam sebuah cerita maupun puisi mendorong semua ibu, pastinya, untuk lebih mengenal potensi anak-anaknya lebih dini. (Loh kok malah ngomongin Faiz sich. Ya gak pa2 toh, Faiz itu khan anaknya Bunda Helvy. Anak itu khan perwujudan dari kedua orangtuanya. Kalau orangtuanya tangguh, insya Allah anaknya pasti tangguh. Betul, betul, betul….kayak Upin dan Ipin aja. Hee..hee…). Ok, back to Bunda Helvy.

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi inspirasi yang saya dapatkan dari sosok dan karya Bunda Helvy. Buku pertama beliau yang insya Allah bukan yang terakhir saya beli, Risalah Cinta Untukmu, tidak saja menginspirasi saya sebagai seorang calon penulis. Buku yang bercover pink tersebut memberikan pandangan baru kepada saya bagaimana sebuah tulisan yang dikemas dengan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, rasa hormat istri kepada suaminya, persahabatan yang tak kan lekang oleh waktu, dan jiwa kesastrawanan seorang Bunda Helvy dalam belantika dunia kepenulisan mampu menjadi tulisan inspiratif bagi saya pribadi. Oleh karena itu, setelah selesai membaca tulisan beliau dalam headline, Tentang Cinta dan Pengorbanan, Tentang Sikap dan Sudut Pandang, Tentang Perhatian dan Persahabatan, Tentang Makna dan Pengajaran, Tentang Buku dan Menulis dan, terakhir Tentang Waktu; saya langsung menjadikani beliau sebagai sosok Ummi, sahabat, kakak, pengamat, pengikat makna (meminjam istilah Hernowo), pejuang cinta sejati, bu de, pemimpin, majikan, pemerhati anak-anak (kayak Kak Seto), dan guru bagi kaum yang membutuhkan. Pokoknya Bunda Helvy TeOBeGeTe deh.

Dalam headline, Hanya Ajal yang Bisa Menghalangi Aki Menulis, tiga kalimat terakhir yang Bunda Helvy tulis berikut ini benar-benar mencerahkan hati kecil saya. Tiga kalimat terakhir itu adalah “Hanya bila ajal tiba, kita akan berhenti. Kini kau, aku, dan kita akan terus merangkai kata, menjelma kalimat-kalimat yang kita tanam sepenuh cinta pada semesta. Semoga tumbuh menjadi berlian kecil di hati pembaca.” Aki yang dimaksud dalam tulisan Bunda tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Ismail Marzuki. Sosok laki-laki tua yang menghabiskan hidupnya dengan menulis ini adalah sumber inspirasi bagi Bunda Helvy dalam berkarya. Sosok seorang aki yang selalu tersenyum, menyebarkan misi sebagai khalifatullah yang bergelar MBS (Manusia Biasa Saja) itulah yang menyakinkan saya bahwa hanya kematian yang membuat seorang penulis tidak membuat karya. Selain itu, lewat tulisan Bunda Helvy, yang melukiskan bahwa sosok aki meski berumur 90 tahun tetap bisa menulis; membuat saya untuk berani menyimpulkan bahwa.menulis itu melanggengkan umur. Begitu khan Bunda? Semoga Bunda berkenan menjawabnya. Hee…hee….hee….

Dari sekian banyak tulisan yang pernah Bunda Helvy terbitkan, cerita pendek dan novel adalah karya beliau yang belum saya baca sampai pada detik-detik membuat tulisan ini. Untungnya, ketika sampai pada tulisan beliau Tentang Buku dan Menulis, masih dalam buku Risalah Cinta Untukmu, yang berheadline Saya hanya Tukang Cerita, mendorong saya ingin sekali membaca cerpen dan novel karya Bunda Helvy. Dorongan alami tersebut muncul dari rasa penasaran saya ketika dalam tulisan beliau dikisahkan (true story, bukan non-fiksi) bahwa beberapa orang yang ditemui memberi nama anaknya seperti tokoh di cerpen beliau. Subhanallah. Pastinya tulisan beliau di setiap cerpen menginspirasi, mencerahkan, dan menggerakkan siapa saja pembacanya. Semoga saja, salah satunya adalah saya.

Sedikit sekali karya dari Bunda Helvy yang bertuturkan puisi (kalau saya tidak salah). Tapi, kali ini saya tidak akan mempersoalkannya. Memang, puisi yang kita tulis tidak akan mati meski kita telah tiada. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini saya berinisiatif menjadi Aris Kurniawan-Aris Kurniawan yang lain, yang khusus menuliskan puisi untuk Bunda Helvy. Bedanya, kalau Aris Kurniawan yang pertama mempersembangkan puisi ketika Bunda belum menerbitkan satu buku pun; Aris Kurniawan yang satu ini menulis puisi saat Bunda telah menginspirasi banyak orang lewat beberapa tulisan yang dikemas dalam bentuk buku. Sebagai catatan, sebenarnya puisi ini saya buat untuk perayaan hari Ibu, tapi khusus untuk Bunda dari anak-anak penulis dan semua anak calon penulis; saya persembahkan lebih awal. Semoga Bunda berkenan membacanya dan menikmati puisi yang sederhana ini. Amin.

BUNDAKU

Di mana aku berada

Di situ kau menjaga

Tiap kali aku meronta

Kau pun dengan sabar bercerita

Tiap kali aku mengoda

Kau pun dengan tenang berkata

Bunda …

Sekarang ini aku tlah dewasa

Sekarang ini juga Bunda, aku jaga

Aku tahu kasih sayangku tak sepanjang masa

Meski begitu, aku takkan menyerah

Dalamnya lautan tak sedalam kasihmu

Putihnya awan tak seputih cintamu

Bunda …

Sudah berapa liter ASI yang kau beri?

Sudah berapa liter air mata yang kau keluarkan

Maafkan anakmu yang keterlaluan ini

Yang selalu membuatmu sedih dan diam seribu bahasa

Bunda …

Inilah saatnya aku berubah

Inilah saatnya aku berkata

SELAMAT HARI IBU ya Bunda.

Waktu berlari begitu kencang, sehingga kita tak sadar bahwa dia tlah tiada. Waktu di dunia sangatlah singkat, sampai kita tak tahu apakah kita masih ada. Tak ada yang tahu kapan kita dipanggil-NYA. Tak ada yang tahu apakah hari ini kita masih dapat menikmati indahnya pagi, teriknya siang hari, dan mengigilnya malam hari. Hanya kata syukur yang terucap kepada Sang Pemilik tubuh ini, atas kesempatan berkarya (baca ”menulis”) yang masih diberikan. Menulis untuk sosok Ibu yang benar-benar luar biasa, baik sebagai Ibu seorang Abdurrahman Faiz maupun sebagai seorang Ibu bagi siapa saja yang memanggilnya. Tak ada kata yang tepat untuk melukiskan kegembiraan saya dalam menulis, apalagi nantinya tulisan ini akan dibaca oleh Bunda Helvy beserta keluarga. Selamat Milad ya Bunda. Semoga Bunda tetap menjadi orang yang berarti bagi diri, bagi keluarga, bagi orang lain, berarti di mata Allah SWT, dan yang selalu sampai pada-NYA. Amin. Amin. Amin Ya Rabbal Alamin.

Posted by: noceng007 | 12 April 2010

Jatuh Cinta dengan Sahabat?

Pernah dengar lagu “Lucky” oleh Jason Mraz featuring Collbie Calhat? Salah satu lirik di ref. yaitu, “lucky I am in love with my best friend” menunjukkan betapa beruntungnya jatuh cinta dengan sahabat. Bagaimana dengan Anda pembaca? Semua orang pasti pernah jatuh cinta. Tapi kalo jatuh cinta dengan sahabat sendiri? Pasti bisa, tapi apakah pernah? Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas lah yang melatarbelakangi saya memberi tiga ilustrasi yang berhubungan dengan tema jatuh cinta pada sahabat. Simak ya?

Ilustrasi pertama:
Kalau kita kembali dengan masa SMA (untuk yang sudah kuliah pastinya), coba kita ingat kembali kepada siapa kita menaruh perhatian yang spesial. Ada yang ke teman sekelas, teman seorganisasi, teman les, or teman-teman lainnya yang selalu ketemu di tempat nongkrok, bahasa kerennya teman geng. Anda pasti menemukan rasa yang lain daripada hubungan sekedar teman. Anda pasti ingin menjadikan Dia teman paling dekat yang bisa diajak pergi ke sana kemari. Tapi, kadangkala ada di antara Anda yang malu mengakuinya. Setelah terlambat, baru menyesal kemudian. Itulah manusia. Betul?

Ilustrasi kedua:
Untuk Anda yang masih SMA, coba kita kembali ke jaman SMP. Untuk seumuran Anda sekarang, pasti ketertarikan terhadap lawan jenis sudah timbul. Selain karena faktor pergaulan, faktor genetik juga menentukan. Tahun bertambah tahun, makna jatuh cinta sudah melekat di pikiran anak-anak seumuran Anda. Tak jarang cinta SMP di cap sebagai cinta pertama atau yang di kenal dengan cinta monyet. Tapi sayang, monyetnya nggak pernah jatuh cinta. Heee..hee… Ngelawak dulu boleh khan. Back to business. Karena di tingkat SMP jatuh cinta sudah merajalela, maka bisa di ambil asumsi bahwa pasti di antara Anda semua pernah mengalami rasa deg-deg (dak dik duk), salah tingkah, wajah merona merah, dan bahkan sampai mengalami masa puber, khususnya cewek. Di jenjang pendidikan ini, jatuh cinta pasti tak mengenal: apakah teman kelas, teman sebangku, sahabat, maupun temannya teman. Cinta itu memang buta. Cinta tak bisa menyeleksi. Siapa saja yang dapat di kenai panah dewi cupid; dia akan merasakan indahnya jatuh cinta untuk pertama. Tanpa menghiraukan apakah sang pujaan hati tahu dan punya perasaan sama, di antara Anda pasti akan cuek. Selama Anda mempunyai perhatian yang lebih, Anda tak pernah ingin memintanya kembali. Meski ada saja yang ingin meminta balasannya. Jujur?

Ilustrasi ketiga:
Ketika di level SMA dan SMP cinta sudah menyebarkan bau harum, tak begitu halnya di level Sekolah Dasar (SD). Menurut saya, SD masih belum sepenuhnya mengenal akan itu cinta. Meski ada perilaku-perilaku yang mengarah ke sana, tetapi sikap-sikap yang ada hanya sampai tahap sayang. Oleh karena itu, di sesi ilustrasi ketiga saya langsung melompat ke level yang paling tinggi, yaitu Perguruan Tinggi (PT). Untuk Anda-Anda yang sudah pernah bekerja sampai sudah menikah sampai mempunyai anak, coba Anda, kalo tidak keberatan, ingat siapa pacar Anda di PT. Pasti kalo nggak salah, seseorang yang pernah dekat dengan Anda atau dekatnya karena mulai di kenalkan, setelah itu suka dan berlanjut ke arah hubungan yang lebih spesial. Bila di rangking, mantan pacar atau malah masih jadi pacar (karena jadi suami); maka hubungan pertemanan yang dekat menduduki posisi puncak di atas tingkat perkenalan. Maksud saya, hubungan antar sahabat lebih memiliki indikasi mengarah ke arah yang lebih daripada hanya sekedar di kenalkan oleh teman. Betul atau tidak, Andalah yang tahu. (Maaf jika saya salah berasumsi)

Setelah Anda membaca dan merenungi (terlalu hiperbola ya), dari ketiga ilustrasi di atas, bisa saya tarik kesimpulan (kalau boleh) bahwa Jatuh Cinta dengan Sahabat; BISA dan BOLEH. Tapi, kadangkala Anda dan juga saya kurang atau mungkin tidak mau menerima kenyataan yang ada di depan mata. Jadi, tak salah jika banyak pasangan-pasangan yang menyangkal hubungan dengan sahabatnya bisa berubah ke arah yang lebih khusus. Di luar itu semua, saya tidak mempersoalkan Anda termasuk kelompok yang mana. Yang ingin lebih saya tekankan adalah hubungan antar manusia yang telah mengenal lama akan menciptakan ion-ion yang mengikat keduanya ke arah yang lebih dekat. Hubungan itu seperti yang kita lihat pada daya kerja magnet yang antar dua kutup yang berlawanan akan saling tarik menarik dan begitu sebaliknya. Kesimpulan ini juga di dukung oleh peribahasa orang jawa,”Witting Tresna Jalaran Soko Kulina” bahasa Indonesianya kurang lebih adalah Rasa Sayang akan Timbul karena Sering/ Terbiasa. Dan untuk lebih mendukung kesimpulan yang saya tarik, coba Anda perhatikan fenomena air terhadap batu yang keras dan besar. Meski air yang mengenai batu itu hanya setetes. Tetapi, kalo terus menerus, batu tersebut akan terlubangi walau sedikit pula. Sedikit demi sedikit lama-lama membesar khan. Bagaimana pendapat Anda? Saya tunggu loh. Terima kasih sebelumnnya atas kesediaan Anda membaca dan memberikan pendapat/ komentar baik itu Pro maupun Kontra. Have a nice day. C uuuu

Tags:

Dalam progam Katakan Cinta FLP Malang yang edisi perdananya launching tepat tanggal 14 Maret 2010, bertempat di perpustakaan kota Malang lantai 3; menghadirkan salah satu penulis kenamaan. Penulis tersebut mempunyai nama lengkap Jonriah Ukur Ginting. Langkah dari komunitas yang dikenal dengan sebutan Forum Lingkar Pena wilayah kota Malang ini seakan menjadi langkah yang patut diperhitungkan dalam dunia kepenulisan Kera Ngalam dan sekitarnya.
”Sebenarnya manusia itu hebat sejak bayi”. Kalimat yang mengawali sharing beliau dengan para calon penulis Kera Ngalam menjadi kalimat yang terkesan provokatif. Dengan ilustrasi yang cukup mengena, Mas Jonru (biar akrab) menjelaskan bagaimana seorang bayi dengan usaha kerasnya, plus dukungan orangtua dari awalnya bisa belajar merangkak sampai dapat berjalan sendiri. Itulah mengapa manusia disebut makhluk hebat. Tetapi seiring waktu berjalan, faktor lingkungan banyak meracuni manusia-manusia hebat untuk beralih peran sebagai manusia malas. Sehubungan dengan peran lingkungan yang begitu krusial, Mas Jonru menekankan kepada calon-calon penulis untuk memperhatikan soft skill daripada hard skill. Soft skill yang terdiri, salah satunya yaitu motivasi haruslah diperkuat seiring banyaknya racun-racun yang berdatangan dari lingkungan sekitar. Sedangkan hard skill yang salah satunya adalah bakat/ keahlian menjadi nomer kedua atau bahkan tidak usah diperhatikan sama sekali untuk menjadi seorang penulis. Apakah bakat menulis tidak dipunyai manusia sejak lahir? Jawabannya: bakat menulis sudah dipunyai manusia sejak lahir. Hanya saja karena racun-racun yang datangnya dari lingkungan sekitar, menyebabkan lambat laun bakat tersebut hilang tanpa bekas. Oleh Allah SWT, manusia diberikan kemampuan membaca plus menulis seperti yang tercantum pada Q.S. Al Iqro 1-5. So, sebagai manusia kita tidak boleh tidak percaya diri untuk menulis. Ketidakpercayaan diri manusia adalah salah satu racun yang mencegah manusia menulis. Dalam buku Mas Jonru yang berjudul Tips-Tips untuk Menjadi Penulis Hebat, ada 8 racun yang harus lenyapkan oleh calon penulis di belahan bumi pertiwi ini. Kedelapan racun tersebut adalah: (1) Saya tak mungkin, (2) Bagaimana kalau, (3) Wajar, dia khan…,(4) Nanti saja setelah…, (5) Saya belum layak, (6) Silau melihat hasil, (7) Tak sabaran, dan (8) Minder.
Racun pertama, saya tak mungkin adalah suatu pernyataan yang keluar dari mulut manusia yang pesimis. Jenis manusia seperti ini banyak kita temui. Manusia seperti ini bisa disebut sebagai manusia yang sok tahu atau manusia paranormal. Kemampuan memulai sesuatu pada manusia jenis ini sangatlah lemah. Mereka sudah menyerah terlebih dahulu sebelum mencoba.
Racun kedua, bagaimana kalau adalah perwujudan dari sikap manusia yang berburuk sangka. Sehubungan dengan jenis racun yang satu ini, Mas Jonru mengutip pernyataan motivator favoritnya, Mario Teguh, yaitu: ”Masa depan kita tergantung pada apa yang kita lakukan sekarang.” Dengan kata lain, jika manusia diam tak melakukan apa-apa, maka yang dihasilkan adalah angin belaka. Sebaliknya, hasil yang didapat manusia untuk hari esok akan dapat terlihat dari usaha manusia sekarang (pada saat itu).
Racun ketiga, wajar dia khan…. Tiga kata tersebut adalah hasil dari sikap manusia yang hanya melihat sekilas kemampuan/ bakat seseorang bukan proses/ usaha keras seseorang dalam mencapai apa yang diinginkan . Oleh karena itu, kita harus bisa melihat proses (bagaimana seorang penulis pemula, seperti Andrea Hirata, berusaha keras melahirkan karya-karya yang luar biasa karena dorongan janjinya kepada Ibu guru tercinta) bukan hasil (tetralogi yang ditulis oleh Andrea Hirata hingga menjadi best seller). Kerja keras/ motivasi seorang penulis (soft skill), bukan faktor bakat, keturunan, dan fasilitas yang mendukung (hard skill), sebelum menjadi penulis terkenal haruslah dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi kita untuk keluar dari racun ketiga. Hanya dengan kerja keraslah, faktor hard skill akan lambat laun terabaikan.
Racun keempat, nanti saja setelah…Perasaan seperti ini tidak akan muncul jika kita sadar bahwa kita tidak bisa mengetahui kalau umur kita panjang. Jadi, alasan kematian adalah alasan yang kuat untuk keluar dari perasaan menunda-nunda. Selain itu, kita juga harus tahu bahwa tidak ada episode dalam hidup ini yang sempurna, so jangan menunda menulis hanya karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung (tidak mood). Perasaan menunda-nunda akan hilang juga ketika kita menggunakan kekuatan “kepepet”. Oleh karena itu, kita harus menciptakan suasana “kepepet” untuk memotivasi kita untuk segera menulis.
Racun kelima, saya belum layak. Bagaimana kita tahu kalau kita layak atau tidak sebelum kita memulai menulis. Dengan demikian, kita harus belajar untuk memulai. Memulai sesuatu akan lebih mudah, pertama selama kita yakin bisa, mampu, dan mau. Kedua, selama kita mempunyai strategi yang tepat, efisien, dan variatif yang ditunjang dengan pemotivasian diri untuk hidup lebih baik; kegiatan memulai akan terasa ringan. Ketiga, memulai sesuatu yang baik (dalam hal ini menulis) akan lebih bermakna jika kita bertindak cepat dan waspada terhadap halangan/hambatan/ racun-racun yang akan muncul (tips pertama sampai dengan ketiga, asli dari saya loh).
Racun keenam, silau melihat hasil. Jenis racun ini disebabkan kita tidak tahu masa lalu/ suka duka penulis yang sudah terkenal. Bacaan seputar biografi seseorang, dalam hal ini penulis kenamaan harus diketahui oleh para calon penulis. Latar belakang seorang Helvy Tiana Rosa, yang hidup di pinggir rel kereta api haruslah menjadi inspirasi bagi kita yang hidupnya lebih baik. Lewat usaha kerasnya dan mendapatkan kata-kata motivasi dari Taufik Ismail, Bunda Helvy melangkahkan kakinya dengan pasti menuju dunia kepenulisan. Dan hasilnya, beliau bukan hanya menjadi penulis hebat melainkan juga sukses. Penulis hebat adalah penulis yang mentalnya sudah terbukti atau dalam arti penulis tersebut telah melewati proses dengan ketangguhannya. Sebaliknya, penulis sukses adalah penulis yang hanya dilihat dari banyaknya karya yang telah dihasilkan. Menjadi penulis sukses tidak seluruhnya salah, karena penulis sukses awalnya pasti dari penulis hebat, bukan sebaliknya.
Racun ketujuh yaitu tak sabaran. Agar kita bisa terhindar dari racun ini, kita harus menerapkan konsep “jangan selingkuh”. Maksudnya adalah, ketika kita menulis kita harus memfokuskan ide pertama yang muncul, bukan ide kedua, ketiga, maupun keempat. Setelah ide pertama selesai dikembangkan, maka kita bisa beralih pada ide selanjutnya.
Racun kedelapan, minder atau bahasa kerennya nggak PD. Sebagai makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah SWT yang mempunyai akal, cipta, dan karsa; kita tidak seharusnya minder. Lewat ilustrasi raja yang memerintahkan bawahannya untuk duduk di singasananya, maka kita tidak sepatutnya merasa rendah diri. Karena apa? Karena yang memerintah bawahan untuk duduk di kursi raja adalah raja sendiri. Sehingga, ketika permaisuri memarahi bawahan karena telah duduk di kursi raja, maka bawahan tersebutnya dengan lantang berkata,”Raja yang punya singasana ini aja tidak marah, malah dia yang memerintahkan saya, kok permaisuri yang bukan pemilik kursi ini sewot.” Dengan kata lain, kemampuan menulis plus membaca adalah mandat atau bakat yang sudah diberikan oleh Allah SWT kepada manusia sejak lahir di bumi ini.
Dengan menyimak tips-tips yang diberikan oleh Mas Jonru, semua calon penulis diwajibkan berkata “BISA”, tidak berburuk sangka, segera menulis, melihat kesuksesan seseorang dari proses, berani memulai, memotivasi diri dengan banyak membaca biografi orang terkenal, “jangan selingkuh” dan percaya diri. Semoga setelah menerapkan tips-tips dari Mas Jonru yang berhubungan dengan pemotivasian diri, kita sebagai calon penulis bisa berbakti, berkarya, berarti lewat karya-karya tulisan yang mencerahkan dan menyejukkan hati para pembaca. Amin.

Tags:

Berpedoman kepada nasehat Sang Pengikat Makna, Hernowo, dalam kesempatan kali saya ingin menuangkan cara/ tips menjadikan membaca dan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan. Pertama, jangan pernah melakukan kegiatan membaca dan menulis dengan terpaksa. Usahakan ketika kita melakukan kegiatan tersebut dengan hati yang senang dan mempunyai keinginan yang kuat. Seperti orang bijak bilang, “There is a way when there is a will”. Jika ada kemauan yang keras dari kita sebagai pembaca dan penulis untuk melakukan kegiatan membaca dan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan, maka hasil yang didapatkan akan lebih bermanfaat bukan hanya untuk kita sebagai pelaku melainkan juga untuk orang lain sebagai penikmat contoh yang kita tularkan. Fakta ini bisa saya sampaikan karena saya sendiri telah mengalaminya. Semenjak saya mulai menyenangi kegiatan membaca, saya coba tularkan kepada anggota keluarga lainnya dengan cara, misal memberi kado berupa buku kepada Ayah, Ibu, dan Saudara ketika mereka berulangtahun. Dan hasilnya mereka lambat laun melayang seperti balon, layaknya ilustrasi yang dikutip oleh Hernowo dari buku Thomas L. Madden F.I.R.E.U.P Your Learning, alias suka membaca. Sebelum fakta ini saya tularkan, tentu saja saya alami sendiri. Sejak saya diharuskan banyak membaca ketika kuliah lagi S2 di Malang, saya mendapatkan apa yang selama ini Kang Hernowo sampaikan. Salah satunya adalah saya bisa mengubah keharusan tersebut secara pelan-pelan menjadi kebutuhan hidup. Meski kadangkala terbentur dengan waktu atau keperluan yang mendesak, saya berusaha untuk tidak lepas dari yang namanya membeli buku yang saya sukai dan menulis diary. Dan pastinya setelah saya membeli buku tersebut dan menulis diary, pikiran saya semakin terbuka dan pengalaman yang sedikit menjadi melimpah ruah. Kedua, lakukan kegiatan membaca dan menulis dengan cara yang simple terlebih dahulu. Saya pertama kali melakukan kedua kegiatan tersebut dengan cara membaca buku-buku motivasi (pada waktu itu saya mengalami banyak masalah) dan menuliskan apa yang saya alami dalam buku harian. Dengan awalan yang menyenangkan, pastilah kita akan mendapatkan manfaat yang menyenangkan pula. Mengacu pada konsep ilmu kimia, hukum kalor, yang mengatakan bahwa kalor yang diterima sama dengan kalor yang dikeluarkan (kalau nggak salah), maka kalor yang kita terima dari melakukan kegiatan yang simple tapi fun, sama dengan kalor yang kita keluarkan yaitu manfaat dari membaca dan menulis yang menyenangkan. Ketiga, lakukan kegiatan membaca dan menulis meskipun sebentar tetapi rutin dan efektif. Dengan kata lain, jika kita bisa meluangkan sedikit waktu tetapi terus menerus dan akhirnya memberikan manfaat baik langsung maupun tidak langsung, maka saya jamin waktu yang digunakan untuk membaca dan menulis akan lebih banyak daripada sebelumnya. Bahkan bisa-bisa, kita akan menjadikan kegiatan membaca dan menulis sebagai kegiatan rutin layaknya sembako yang kita makan sehari-hari. Atau kegiatan membaca dan menulis akan menjadi prioritas pertama saat bangun tidur dan sebelum tidur. Saya yakin 1000% kegiatan yang dikenal dengan istilah Mengikat Makna akan benar-benar mengikat kita sebagai pembaca dan penulis sehingga kita tidak mungkin terlepas dari ikatan tersebut. Anehnya, kita bukan berontak, tetapi malah mengikat diri kitas sendiri dengan ikatan yang lebih kuat alias senang bukan kepalang. Keempat, jadikan kegiatan membaca dan menulis sebagai ajang unjuk gigi kita terhadap diri kita sendiri dan terhadap orang lain. Terhadap diri kita sendiri, membaca dan menulis akan menjadikan kita sosok manusia yang berprestasi karena bisa menghasilkan sesuatu (tulisan) daripada hanya melamun yang tidak jelas. Sedangkan terhadap orang lain, membaca dan menulis akan mengefektifkan cara pikir kita ketika berinteraksi dengan siapa saja. Bukan hanya berinteraksi, tetapi kita akan bisa memberikan manfaat dari apa yang telah kita baca dan dari apa yang sudah kita tuangkan dalam sebuah tulisan kepada orang lain.
Mungkin sampai disini dulu apa yang saya bisa sampaikan dari judul diatas. Sebagai informasi, judul diatas saya ambil dari tampilan buku “Mengikat Makna Sehari-hari” karya Kang Hernowo; yang mengambil satu statement yaitu Mengubah Beban Membaca dan Menulis menjadi Kegiatan yang Ringan-Mengasyikkan. Semoga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat untuk kita semua dan saya pada khususnya. Wallahu a’lam bis showab.

Posted by: noceng007 | 24 Januari 2010

A New Beginning

Sebuah Permulaan

Dalam menjalani kehidupan, kita pasti melewati masa yang dinamakan permulaan. Di masa itu, kita lahir ke dunia dengan tangisan keras yang langsung di sambut dengan bunyi adzan yang dikumandangkan oleh seorang laki2 dewasa yang kita kenal sebagai ayah. Lalu, seorang wanita dewasa mendekap kita dengan erat seakan-akan tak ingin melepasnya. Dia yang kita kenal dengan sebutan ibu, menyapih kita dengan lembut dan mencium kening kita dengan kasih sayangnya. Itulah momen-momen permulaan kita ada. Bersyukurlah kepada Sang Pencipta, karena-NYA kita hadir di dunia yang fana ini.

Tags:

Posted by: noceng007 | 24 Januari 2010

Halo dunia!

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!

Categories